Friday, July 25, 2014

Strategi Pembinaan

STRATEGI PEMBINAAN AGAMA ISLAM DI SMAN 2 KOTA SERANG

A. Kurikulum Pendidikan Agama Islam

Membicarakan isi kurikulum pendidikan agama Islam tidak dapat dilepaskan dari tujuan pendidikan.

Adapun isi pendidikan dan pengajaran agama Islam pada tingkat permulaan meliputi :

1. Belajar membaca al-Qur’an

2. Pelajaran dan praktek shalat

3. Pelajaran ketuhanan (teologis) atau ketauhidan yang berkisar pada sifat wajib bagi Allah.[1]

Untuk mewujudkan tujuan pendidikan Agama Islam di sekolah, kurikulum perlu mempertimbangkan prinsip berkesinambungan, berurutan dan integrasi pengalaman. Karena tujuan pendidikan di semua tingkatan pendidikan berintikan iman, maka seluruh mata pelajaran dan kegiatan belajar haruslah bertolak dari dan menuju kepada iman kepada Allah, dengan cara seperti itu maka kesatuan pengalaman siswa akan terbentuk dan kesatuan pengalaman itu dikendalikan oleh otoritas Allah.[2]

Pendidikan agama Islam merupakan sub sistem pendidikan nasional, oleh karena itu agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan sebagai pemandu dalam mewujudkan kehidupan yang bermakna, damai dan bermartabat.

Kurikulum pendidikan agama Islam di sekolah umum berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 tahun 2006 tentang standar isi, ruang lingkupnya mencakup :

1. Al-Qur’an dan hadits

2. Aqidah,

3. Akhlak

4. Fikih

5. Tarikh.[3]

Materi al-Qur’an meliputi ayat-ayat pilihan beserta tajwid dan isi kandungannya, sedangkan materi hadits tidak dibahas secara khusus, untuk materi akidah berisi rukun Iman yang enam yaitu : Iman kepada Allah, Malaikat, Kitab, Rasul, hari akhir dan qadha’ dan qadar.

Untuk materi akhlak ditekankan pada membiasakan perilaku terpuji dan menghindari perilaku tercela.

Materi fikih berisi tentang shalat, zakat, puasa, haji dan aturan muamalah seperti riba dan jual beli, munakahat dan mawaris.

Sedangkan materi tarikh Islam berawal dari tarikh Rasulullah sampai masa kemunduran Islam.[4]

Jadi kurikulum pendidikan agama Islam di sekolah umum yang harus dikuasai oleh siswa sampai tingkat sekolah menengah atas adalah agar siswa :

1. Berperilaku sesuai dengan ajaran agama yang dianut sesuai dengan perkembangan remaja.

2. Mengembangkan diri secara optimal dengan memanfaatkan kelebihan diri serta memperbaiki kekurangannya.

3. Menunjukkan sikap percaya diri dan bertanggungjawab atas perilaku, perbuatan, dan pekerjaannya.

4. Berpartisipasi dalam penegakan aturan-aturan sosial.

5. Menghargai keberagaman agama, bangsa, suku, ras, dan golongan sosial ekonomi dalam lingkup global.[5]

B. Metodologi Pembelajaran

Berbagai usaha pembaharuan di bidang pendidikan telah dilakukan untuk memperbaiki kekurangan kita dari Negara lain, misalnya kurikulum mengalami penyempurnaan, beberapa metode dan media pembelajaran mengalami pembaharuan yang dinamis sebagai upaya yang bertujuan untuk membentuk individu subyek belajar yang berkualitas, kreatif dan dapat menghadapi perubahan jaman.

Pendidikan Agama Islam merupakan pelajaran yang bukan hanya membutuhkan ketekunan untuk membaca dan belajar, tetapi juga memerlukan penalaran yang tinggi karena banyak proses hidup yang dapat dijadikan sebagai pegangan dan contoh dalam perilaku sehari-hari. Pembelajaran sangat ditentukan oleh beberapa hal diantaranya yaitu :

1. Tujuan pembelajaran yang hendak dicapai pada jam pelajaran tersebut, sehingga dengan tujuan tersebut akan dibuat langkah yang berbeda sesuai dengan tujuannya.

2. Kemampuan guru, dalam hal ini pada umumnya guru lebih suka menggunakan metode ceramah yaitu dengan berbicara sampai selesai pelajaran, demikian juga guru lain lebih suka dengan diskusi dan sebagainya.

3. Peralatan yang tersedia, hal ini sesuai dengan kemampuan sekolah masing-masing.

4. Jumlah siswa, jika jumlah siswanya banyak dalam satu kelas mungkin dengan ceramah , akan tetapi efektifitasnya jika terdapat kelas paralel yang banyak dengan ceramah akan kurang efektif. [6]

Demikian juga dalam pembelajaran pendidikan agama Islam tidak semua tujuan pembelajaran agama Islam dapat dirumuskan secara operasional karena adanya tiga ranah yaitu kognitif, afektif dan psikomotor. Pembelajaran pada ranah kognitif meliputi pembelajaran verbal, konsep dan prinsip, dalam pembelajaran ranah psikomotor perlu diperhatikan urutan pembelajarannya dan pembelajaran untuk ranah afektif ini agak sulit dalam menerapkan langkah pembelajarannya.

Dengan demikian, membaca saja belum cukup untuk memenuhi tujuan pembelajaran Pendidikan Agama Islam, karena itu dibutuhkan adanya visualisasi untuk lebih mempermudah dalam memahami materi Pendidikan Agama Islam, sehingga memberikan dorongan agar guru pendidikan agama Islam melakukan inovasi dalam pembelajarannya dengan membuat bahan ajar berbasis Teknologi Informasi dan Komputer (TIK).

Demikian juga dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam tidak semua tujuan pembelajaran Agama Islam dapat dirumuskan secara operasional karena adanya tiga ranah yaitu kognitif, afektif dan psikomotor.

Pembelajaran pada ranah kognitif meliputi pembelajaran verbal, konsep dan prinsip, dalam pembelajaran ranah psikomotor perlu diperhatikan urutan pembelajarannya dan pembelajaran untuk ranah afektif ini agak sulit dalam menerapkan langkah pembelajarannya. Dengan demikian, membaca saja belum cukup untuk memenuhi tujuan pembelajaran Pendidikan Agama Islam, karena itu dibutuhkan adanya visualisasi untuk lebih mempermudah dalam memahami materi Pendidikan Agama Islam, sehingga memberikan dorongan agar guru pendidikan agama Islam melakukan inovasi dalam pembelajarannya dengan membuat bahan ajar berbasis Teknologi Informasi dan Komputer (TIK).

Jadi pada masa kini sudah saatnya guru pendidikan agama Islam dalam melaksanakan pembelajaran jangan hanya terpaku pada penggunaan metode ceramah saja, akan tetapi perlu mengikuti perkembangan jaman dengan menggunakan metode yang kontekstual termasuk di dalamnya dengan mengembangkan bahan ajar berbasis Teknologi Informasi dan Komputer.

Pembuatan bahan ajar semacam ini dapat dikembangkan secara bersama-sama dalam musyawarah guru pendidikan agama Islam atau dapat juga menggunakan media pembelajaran dalam bentuk VCD seperti VCD tentang penyelenggaraan manasik haji dan sebagainya. Dengan penguasaan metode pembelajaran yang bervariasi diharapkan siswa tidak cepat jenuh dan mampu mempercepat tercapainya tujuan pembelajaran yang telah ditentukan.

C. Strategi Pembinaan Agama Islam di SMAN 2 Kota Serang

1. Dengan merubah orientasi dan fokus pengajaran agama yang semula bersifat subject matter oriented, yakni dari yang semula berpusat pada pemberian pengetahuan agama dalam arti memahami dan menghafal ajaran agama sesuai kurikulum, menjadi pengajaran agama yang berorientasi pada pengalaman dan pembentukan sikap keagamaan melalui pembiasaan hidup sesuai dengan ajaran agama. Pengajaran agama yang berorientasi pada pemberian pengetahuan agama sebanyak-banyaknya seperti yang selama ini diinginkan dan diasumsikan dapat membekali sikap keagamaan, sementara waktu yang tersedia tidak mencukupi, sudah waktunya untuk tidak dipertahankan. Pengajaran agama, khususnya pengajaran agama di sekolah umum perlu dirubah arahnya kepada pengalaman agama dalam kehidupan sehari-hari. Untuk para siswa di sekolah umum, diarahkan untuk menjadi orang yang berjiwa agama. Karena mereka itu nantinya akan menjadi dokter, arsitek, desainer, pengusaha, ilmuwan dan lain-lain.

Namun semua keahliannya didasarkan pada jiwa agama dan akhlak Islam. Sehingga seluruh pengetahuan dan keahlian yang mereka miliki dapat digunakan untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah dan berbuat baik kepada sesama manusia.

Mereka itu berbeda dengan para pelajar madrasah yang selain ditujukan untuk menjadi ahli agama dan juga lulusan yang berjiwa agama. Dalam kaitan ini maka porsi pelajaran agama pada kelompok ini porsinya lebih besar dari mereka yang sekolah di sekolah umum.

2. Dengan cara menambah jam pelajaran agama di luar jam pelajaran yang telah ditetapkan dalam kurikulum. Dalam kaitan ini, kurikulum tambahan atau kegiatan ekstra kurikuler perlu ditambahkan dan dirancang sesuai dengan kebutuhan dengan penekanan utamanya pada pengamalan agama dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan yang dapat ditawarkan dalam ekstra kurikuler ini antara lain kegiatan shalat berjama’ah, pendalaman agama melalui pesantren kilat, qiyamul lail, puasa sunah, santunan kepada kaum dhuafa’ dan kegiatan sosial keagamaan lainnya. Oleh karena itu di sekolah-sekolah harus dilengkapi mushala, suasana lingkungan yang islami, penerapan pola hidup dan akhlak islami dan disediakan seorang guru agama yang secara khusus membimbing pelaksanaan amaliyah keagamaan di sekolah. Kegiatan ini akan sangat menolong para siswa yang berada dalam lingkungan keluarga yang agak kurang kental jiwa keagamaannya.

3. Dengan cara meningkatkan perhatian, kasih sayang, bimbingan dan pengawasan yang diberikan oleh kedua orang tua di rumah. Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa anak-anak yang sedang tumbuh dewasa dan belum terbentuk sikap keagamaannya sangat memerlukan bantuan dari kedua orang tua. Anak-anak sangat membutuhkan kasih sayang yang secara psikologis dapat menetramkan jiwanya. Mereka mendapatkan sesuatu yang diharapkan di rumahnya, sehingga ia akan mau tinggal di rumah. Sebaliknya bila jiwa anak tidak mendapat kasih sayang di rumahnya ia akan mencari kasih sayang di luar rumah dengan cara berteman dengan kelompoknya yang belum tentu mengajak ke arah kebaikan. Selain itu anak-anak juga membutuhkan perhatian dari orang tuanya. Ketika anak berada di rumah kedua orang tuanya menanyakan tentang kegiatannya di sekolah, program dan agenda yang harus dicapai serta rencana-rencana lainnya. Demikian pula kebutuhannya yang bersifat fisik material, seperti pakaian, alat tulis, uang jajan dan lainnya harus mendapatkan perhatian yang cukup dari orang tuanya. Dengan cara demikian maka mereka tidak akan mencari perhatian di luar rumah. Dalam hal pengawasan dan bimbingan juga harus dilakukan karena anak belum memiliki bekal dan pengalaman yang cukup dalam menghadapi berbagai persoalan sehingga mudah terpengaruh oleh lingkungan mereka bahkan sebagai akibat dari kemajuan teknologi informasi bisa jadi pengaruhnya sangat cepat bagi anak dan ini semua bisa berupa hal yang negatif.

4. Dengan cara melaksanakan tradisi keislaman yang berdasarkan al-qur’an dan hadits, disertai dengan penghayatan yang dalam akan makna dan pesan moral yang terkandung di dalamnya.Dalam masyarakat kita terdapat banyak tradisi keislaman yang bernuansa pembinaan sikap keagamaan, seperti memberikan nama yang baik, mencukur rambut, aqiqah, mengajarkan sopan santun kepada orang tua, senantiasa berdoa dalam memulai segala aktifitas sehari-hari dan lainnya. Tradisi keislaman semacam ini jika dilaksaanakan secara konsisten akan sangat besar pengaruhnya bagi pembinaan sikap keagamaan anak. Mencukur rambut bayi yang baru lahir memberikan petunjuk tentang perlunya memberikan pendidikan kebersihan dan keindahan.

Hal ini sejalan dengan ajaran Islam yang selain menekankan kebersihan jiwa juga kebersihan fisik.

Berbagai tradisi keagamaan tersebut sangat efektif bagi pembinaan mental dan akhlak anak, manakala dapat dilaksanakan dengan penuh disiplin dan berkesinambungan. Tradisi keagamaan inilah yang akan membentuk karakter keislaman seseorang.

5. Pembinaan sikap keagamaan dapat pula dilakukan dengan memanfaatkan berbagai media massa baik media cetak maupun media elektronik. Berbagai informasi agama dapat ditayangkan melalui media tersebut sehingga terjadi integrasi pembinaan agama antara media massa dengan rumah tangga dan sekolah. Kekurangan jam pelajaran agama di sekolah selain dapat diatasi dengan mengintensifkan pengamalan agama di rumah, dapat pula dilengkapi dengan memanfaatkan berbagai media tersebut harus masuk dalam kebijakan sekolah dan rumah tangga.[7]

Jadi strategi pembinaan agama Islam di sekolah umum dapat dilakukan dengan terlebih dahulu difahami bahwa pembinaan agama Islam tidak hanya tergantung dengan jumlah jam pelajaran pendidikan agama Islam yang hanya dua jam perminggunya, akan tetapi jauh lebih penting dari itu adalah bahwa pembinaan agama Islam terhadap siswa bukan hanya menjadi tanggung jawab guru agama saja, akan tetapi seluruh komponen yang ada di sekolah juga harus berpartisipasi aktif dalam mendukung tercapainya tujuan pembinaan siswa agar menjadi siswa yang berakhlakul karimah. Demikian juga peran orang tua di rumah dan masyarakat lingkungan sekitar termasuk juga peran media massa baik media cetak maupun media elektronik termasuk siaran televisi sangat mempengaruhi keberhasilan pembinaan agama siswa di sekolah umum. Dengan upaya yang bersifat menyeluruh dan berkelanjutan yang dilakukan secara bersama-sama oleh sekolah, keluarga dan masyarakat termasuk media televise dan radio, maka keberhasilan pembinaan pendidikan agama Islam siswa di sekolah umum akan cepat tercapai sehingga menghasilkan lulusan yang berwawasan luas dalam pengetahuannya, sarat ketrampilan dan santun dalam perbuatan karena dalam penghayatan agamanya.

Pembinaan agama Islam di SMAN 2 Kota Serang dilakukan melalui :

1. Pembiasaan

Pembiasaan ini dapat dilakukan dengan cara seperti membaca al-Qur’an pada jam pertama setiap hari, pembacaan asmaul husna pada waktu sebelum kegiatan pembelajaran dengan cara bersama-sama sekaligus pemberian tausiah setiap hari dan memberikan infak setiap hari jum’at serta pelaksanaan shalat dhuhur berjama’ah dan shalat jum’at di mesjid sekolah.

2. Keteladanan

Semua komponen sekolah yang beragama Islam saling mungucapkan salam dan berjabat tangan ketika bertemu dan untuk muslimat semuanya berpakaian muslimat.

3. Pemberian motivasi

Melalui kegiatan peringatan hari besar Islam diadakan lomba keagamaan dengan memberikan penghargaan kepada para juara, juga melalui kegiatan kerohanian Islam siswa diberi kesempatan untuk berekspresi di berbagai bidang keagamaan seperti dakwah, MTQ dan cepat tepat.

D. Kesimpulan

Strategi Pembinaan agama Islam di SMAN 2 Kota Serang dilakukan dengan berbagai cara yaitu :

1. Menambah jam pelajaran agama pada kegiatan ekstrakurikuler

2. Pembelajaran PAI dengan menggunakan metode kontekstual yang melatih siswa untuk selalu aktif dalam pembelajaran seperti diskusi, presentasi dan penggunaan media berbasis ICT.

3. Melaksanakan program pembiasaan keagamaan melalui pengamalan keagamaan di sekolah seperti pembiasaan asmaul husna yang dilanjutkan dengan pemberian tausiah oleh guru PAI dan guru lain yang memiliki kompetensi keagamaan dengan pemantauan yang terus menerus.

4. Memberikan program kegiatan keagamaan secara khusus pada momen tertentu seperti peringatan hari besar Islam, pesantren kilat dan shalat jum’at di sekolah.

5. Memberikan pengawasan dan bimbingan agama secara intensif yang melibatkan keluarga dan media seperti penugasan mengikuti acara keagamaan maupun merangkum hasil kegiatan agama melalui ceramah agama yang ada di masyarakat sekitar mupun dari radio dan televisi.

6. Keteladanan dalam pelaksanaan pengamalan agama di sekolah oleh seluruh komponen yang ada di sekolah baik dari guru maupun pegawai.

 

Daftar Pustaka

[1] Zuhairini dkk., Sejarah Pendidikan islam, (Jakarta : Bumi aksara, 2000), cet. VI, hal. 219.

[2] Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam (Bandung : Remaja Rosda Karya, tt), hal. 72.

[3] Direktorat Pendidikan Islam pada Sekolah, Standar Isi dan standar Kelulusan Pendidikan agama Islam, hal. 4.

[4] Ibid., hal. 5-14.

 

[5] Ibid., hal. 19.

[6] Ibid. hal. 133.

[7] Abudin Nata, Manajemen Pendidikan Mengatasi Kelemahan Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta :

Prenada Media, 2003), cet. I, hal. 23-32.